Yuk Cari Tahu Perbedaan Fintech Syariah dengan Fintech Konvensional

Photo by Carlos Muza on Unsplash

Berbicara mengenai perkembangan Industri financial technology atau biasa kita kenal dengan sebutan fintech memang terhitung baru di Indonesia, namun perkembangannya termasuk cepat seiring dengan berkembangnya teknologi dan informasi. Sebagian besar fintech di Indonesia masih didominasi oleh sistem konvensional. Namun, #GenSyariah perlu tau bahwa belakangan ini juga mulai bermunculan fintech syariah yang sumber hukumnya didasarkan pada nilai-nilai syariat Islam.

Payung Hukum fintech syariah telah dipertegas melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) 77 Tahun 2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi yang mengatur secara umum setiap jenis fintech. Fintech syariah juga mengacu pada Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) Nomor 117/2018 2016 tentang Layanan Pembiayaan Berbasis Teknologi Informasi Berdasarkan Prinsip Syariah.

Lalu apa perbedaan Fintech syariah dengan Fintech Konvensional?

Ini dia Perbedaan Fintech syariah dengan Fintech Konvensional yang perlu #GenSyariah ketahui:

  1. Perbedaan dalam penerapan bunga atau riba. Fintech syariah tidak menggunakan bunga pada peminjam sehingga transaksi antara perusahaan fintech syariah dengan peminjam bersifat kerjasama yang nantinya terdapat sistem bagi hasil.
  2. Mekanisme penagihan pada peminjam. Fintech syariah lebih mengedepankan pendampingan pada peminjam.
  3. Perbedaan pada  akad pembiayaan. Terdapat enam jenis akad yang diperbolehkan dalam fintech syariah yakni al-bai’ (jual beli), ijarah (pemindahan hak guna), mudharabah, musyarakah, wakalah bil ujrah, dan qard
  4. Prinsip yang digunakan. Ada 3 prinsip dalam fintech syariah, yakni tidak diperbolehkanya maisir, gharar, dan riba.

Selain perbedaan yang telah dijelaskan, terdapat beberapa kemaslahatan yang terkandung dalam  layanan fintech syariah yakni :

  1. Fintech syariah yang lebih menenkankan dan banyak berpihak kepada keluarga mustad’afiin yang kurang daya dan upaya, baik dari sisi keuangan, jangkauan waktu dan lokasi. Sehingga pemerataan ekonomi akan terwujud.
  2. Meningkatnya etos kerja dari sisi efisiensi. Fintech syariah dapat mengurangi waktu perjalanan yang ditempuh serta durasi transaksi. Sehingga #GenSyariah dapat memaanfaatkan sisa waktu yang ada untuk melakukan hal yang bermanfaat.
  3. Fintech syariah menjadi tempat yang tepat dalam menghimpun dan menyalurkan dana ZISWAF.

Potensi pengembangan fintech syariah di indonesia begitu besar melihat populasi muslim di Indonesia yang mencapai sekitar 80% dari 250 juta rakyat Indonesia. Peluang besar ini harus diikuti dengan pemanfaatan secara penuh dan aturan yang dapat memastikan fintech syariah dapat berjalan sesuai dengan ketentuan, sehingga adanya fintech syariah ini dapat memberikan dampak keadilan, kesejahteraan, dan kemashlahatan bagi umat sejalan dengan tujuan ekonomi Islam.

Penulis :

Mohammad Riko Prastio

Reviewer :

Lusiana Ulfa Hardinawati, S.Ei., M.Si.

Editor :

Nulido Firgiyanto

Sumber :  

  1. techfor.id https://www.techfor.id/apa-sih-fintech-syariah/
  1. Hukum Online.com https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5e1e0a77362a8/yuk–mengenal-aturan-main-fintech-syariah/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: