Mengenal Gadai Syariah di Indonesia

Photo by Scott Graham on Unsplash

#GenSyariah mungkin sudah sering mendengar istilah gadai bukan? atau ternyata belum terlalu familiar dengan hal tersebut? Sudah familiar atau belum sekalipun, pada postingan kali ini Syariah.in ingin mengajak #GenSyariah untuk mengintip sedikit mengenai konsep dari gadai syariah. Supaya bagi #GenSyariah yang belum tau menjadi tau, dan agar yang sudah tau menjadi makin tau. Yuk langsung simak penjelasan lengkapnya!

Dikutip dari Kompasiana dan laman sahabatpegadaian.com ternyata yang membedakan gadai syariah dengan gadai konvensional adalah penggunaan akad rahn yang dijadikan akad utama dalam gadai syariah dan tidak digunakan pada gadai konvensional. Ar-Rahn memiliki arti menahan salah satu harta milik peminjam atas pinjaman yang diterimanya, hal tersebut yang kemudian lazim kita sebut sebagai gadai. Praktik gadai syariah di Indonesia berpedoman pada fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) No. 25/DSN-MUI/III/2002 yang memperbolehkan penggunaan akad rahn dengan menggadaikan barang sebagai jaminan utang berdasarkan ketentuan sebagai berikut :

  1. Penerima barang (Murtahin) mempunyai hak untuk menahan barang (Marhun) sampai semua utang orang yang menyerahkan barang/yang menggadaikan (Rahin) dilunasi.
  2. Marhun dan manfaatnya akan tetap menjadi milik Rahin. Sehingga Murtahin tidak diperbolehkan untuk mengambil manfaat Marhun tanpa seizin Rahin serta tidak boleh mengurangi nilai Marhun, kecuali sekedar menetapkan pengganti biaya pemeliharaan dan perawatan dari Marhun atau barang yang digadaikan.
  3. Pemeliharaan dan penyimpanan Marhun pada dasarnya menjadi kewajiban Rahin namun jika tidak memungkinkan dapat juga dilakukan oleh Murtahin, namun biaya pemeliharaan dan penyimpanan tetap menjadi tanggungan dari Rahin.  Besaran biaya pemeliharaan dan penyimpanan Marhun tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman.
  4. Marhun dapat dijual apabila dalam kondisi sudah jatuh tempo atau Rahin tidak dapat melunasi utangnya. Hasil penjualan Marhun akan digunakann untuk melunasi utang Rahin, apabila terdapat kelebihan atau kekurangan harga jual dengan nilai utang maka seluruhnya menjadi milik dan kewajiban Rahin.

Bagaimana #GenSyariah, sudah sedikit mengenal tentang gadai syariah? Selanjutnya Syariah.in akan mengajak #Gensyariah untuk mengetahui syarat dan rukun agar proses gadai sesuai dengan syariat dan dipandang secara sah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menuturkan bahwa mayoritas ulama memandang setidaknya terdapat empat rukun rahn, di antaranya adalah :

  1. Barang yang digadaikan (Marhun),
  2. Utang (Marhun bihi),
  3. Ijab qabul (Shighat), dan
  4. Dua pihak yang bertransaksi, yaitu Rahin dan Murtahin.

Jadi setelah mengenal definisi, landasan hukum yang digunakan di Indonesia serta syarat dan rukun dari gadai syariah, semoga #GenSyariah makin mengetahui mengenai hal-hal terkait dengan gadai syariah. Lalu jika #GenSyariah ingin melakukan gadai syariah, harus pergi kemana ya kira-kira?

#GenSyariah akan mudah menemui tempat yang menawarkan produk berupa gadai syariah di daerah masing-masing, karena #GenSyariah dapat melakukan praktik gadai syariah di PT Pegadaian (Persero) yang merupakan lembaga keuangan non bank (LKNB) dengan lini bisnisnya adalah pembiayaan dan jasa lainnya, termasuk gadai syariah. Tapi apakah benar bisa melakukan gadai syariah meskipun namanya hanya pegadaian? Mengenai hal tersebut #GenSyariah tidak perlu khawatir, karena pegadaian juga memiliki unit bisnis Syariah yang produknya sudah sesuai dengan syariat Islam. Jadi #GenSyariah jangan sampai salah pilih ya, ingat yang ada Syariahnya.

Terakhir #GenSyariah perlu mengetahui juga manfaat dari Rahn, kira-kira apa ya manfaat yang bisa ditimbulkan dari praktik gadai syariah?

 Ternyata Rahn dapat memberikan manfaat bila dijalankan sesuai dengan aturan, karena dapat menyelamatkan dari keadaan krisis yang dialami oleh Rahin atau pemberi gadai. Sehingga, uang yang didapatkan bisa digunakan sebagai modal usaha atau lainnya untuk keluar dari krisis yang dialami oleh Rahin, selain itu barang yang digadaikan dapat diambil kembali setelah utang Rahin telah dilunasi seluruhnya.

Bagaimana #GenSyariah, sudah lebih mengenal jauh mengenai Rahn atau gadai syariah? Semoga pembahasan kali ini membawa manfaat untuk #GenSyariah yang telah membacanya. Tapi, jangan lupa untuk membagikan postingan ini kepada orang-orang terdekat dari #GenSyariah agar lebih banyak orang yang mengenal mengenai gadai syariah. Sampai bertemu di postingan dan pembahasan selanjutnya.

Penulis :

Nulido Firgiyanto

Reviewer :

Lusiana Ulfa Hardinawati, S.Ei., M.Si

Editor :

Nulido Firgiyanto

Sumber : 

Mengenal Akad Ar-Rahn, Pengertian Dasar Hukum dan Syarat. Kompasiana https://www.kompasiana.com/adikurniasandy8065/5afd1cebdd0fa85d2c51be52/mengenal-akad-ar-rahn-pengertian-dasar-hukum-rukun-dan-syarat?page=2

Mengenal Pegadaian Syariah, Solusi Keuangan Sesuai Syariat. Sahabat Pegadaian https://sahabatpegadaian.com/inspirasi/mengenal-pegadaian-syariah-solusi-keuangan-sesuai-syariat

Artikel Otoritas Jasa Keuangan (OJK) https://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/CMS/Article/10501

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: