Menilik Perkembangan Bank Syariah di Asia Tenggara (Singapura)

Setelah membahas mengenai perkembangan bank syariah di Indonesia dan Malaysia, pada postingan ini akan dibahas mengenai perkembangan bank syariah di Asia Tenggara bagian Singapura.

#GenSyariah tentu dapat membaca dua artikel sebelumnya yang membahas perkembangan bank syariah di Indonesia dan Malaysia.

Singapura dikenal sebagai negara yang menganut sistem ekonomi campuran antara kapitalis dan sosialis. Selama ini Singapura berusaha memperluas jaringan kerjasama ekonominya melalui Foreign Direct Investment, Sovereign Wealth Fund dan petrodolar. Hal itu kemudian menjadi faktor yang mendorong pemerintah Singapura untuk mengamati mengenai perkembangan sistem ekonomi Islam.

Awal mula perkembangan perbankan dan keuangan syariah di Singapura datang dari Menteri Goh Chok Tong pada tahun 2004. Keinginannya untuk menjadikan Singapura sebagai Center for Islamic Services ditunjukkan melalui langkah yang mencerminkan keseriusannya membuahkan sebuah kebijakan baru. Pada tahun 2005 Perdana Menteri Singapura telah mengumumkan rencana amandemen undang-undang dengan tujuan mempermudah setiap bank yang beroperasi di Singapura untuk dapat menawarkan produk dan jasa keuangan syariah. Komitmen pemerintah Singapura tidak hanya berhenti sampai disitu, pemerintah Singapura pada saat itu merencanakan adanya revisi peraturan yang menghambat suatu bank untuk menawarkan produk dan jasa keuangan syariah, dengan kata lain bank umum konvensional akan dimudahkan untuk menawarkan produk dan jasa yang sesuai dengan syariah.

Langkah kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah Singapura dalam upaya meningkatkan potensi perbankan syariah di negaranya diantaranya adalah melakukan penghapusan pengenaan bea materai ganda transaksi-transaksi syariah yang melibatkan real state dan juga akan diberlaukan pada penyelesaian pembayaran obligasi syarian yang perlakuannya sama dengan pajak untuk bunga dari transaksi keuangan konvensional. Selain itu, Pemerintah Singapura juga membuka keran kerjasama dengan beberapa negara-negara di Timur Tengah terkait pengembangan potensi perbankan dan keuangan syariah.

Berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Singapura terkait dengan industri perbankan syariah dapat dimaknai dengan adanya perlakuan yang bersifat fleksibel karena jumlah penduduk muslim dan jumlah bank syariah di Singapura masih belum terlalu dominan. Segala aktvitas bisnis perbankan yang beroperasi di Singapura baik konvensional maupun syariah berada dibawah pengawasan Monetary Authority of Singapore (MAS) melalui Banking Act atau undang-undang perbankan Singapura.

Pada tahun 2007, atas persetujuan dari MAS yang merupakan otoritas moneter Singapura, Bank Syariah pertama di Singapura berhasil didirikan dengan nama Islamic Bank of Asia (IBA). Bank DBS sebagai bank lokal terbesar di Singapura menjadi pemegang saham mayoritas dari IBA, sementara sisanya berasal dari 22 Investor negara-negara Gulf Cooperation Council.

Regulasi lain mulai bermunculan seiring dengan perkembangan sistem keuangan syariah di Singapura. Selain undang-undang yang sudah disahkan sebelumnya, pada tahun 2008, Monetary Authority of Singapore (MAS) menerbitkan sebuah Guidlines on the Application of Banking Regulation to Islamic Banking. Pedoman tersebut bertujuan untuk memberikan petunjuk bagi bank tentang peraturan bank syariah di Singapura, terutama bagi lembaga keuangan yang ingin membuka atau menawarkan produk dan jasa yang sesuai dengan prinsip syariah.

Setelah pendirian bank syariah pertama di Singapura dilakukan pada tahun 2007 silam, perbankan syariah di Singapura memiliki harapan tumbuh yang cukup menggembirakan. Hal tersebut ditandai dengan berdirinya cabang khusus syariah maupun layanan perbankan syariah seperti bank DBS, Maybank, HSBS Amanah, bank OCBC dan Noo Islamic Bank. Selain itu ada juga beberapa lembaga keuangan syariah lain yang telah membuka kantornya di Singapura, seperti Arcapita dan Al-Salam Bank-Bahrain.

Hingga saat ini perkembangan mengenai Ekonomi Syariah di Singapura tidak hanya terjadi pada sektor keuangan saja, namun juga merambah pada beberapa industri lain seperti pariwisata, farmasi, makanan dan minuman halal serta yang lainnya. Perkembangan tersebut terlihat dari keberhasilan Singapura yang mampu masuk kedalam 15 negara dengan perolehan Global Islamic Economy Indicator di tahun 2020.

Sumber:

Ghozali M., Azmi M, U., dan Nugroho W. 2019. Perkembangan Bank Syariah Di Asia Tenggara: Sebuah Kajian Historis. FALAH Jurnal Ekonomi Syariah. 4(1): 45-55.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: