Kacamata Islam: Perkembangan Kosmetik Halal di Indonesia

Photo by Element5 Digital on Unsplash

Kehalalan suatu produk yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari sudah tentu menjadi perhatian utama bagi #GenSyariah, baik itu produk makanan atau minuman, atau bahkan produk kosmetik yang digunakan oleh sebagian orang untuk menunjang penampilan mereka. Berkaitan dengan produk kosmetik, selain mencari jenis produk yang cocok dengan kulit, tentu hal yang perlu dipertimbangkan adalah mengenai kehalalan dari produk tersebut. Oleh sebab itu, pembahasan mengenai perkembangan kosmetik halal di Indonesia menjadi sangat menarik, karena berkaitan dengan perkembangan industri halal yang saat ini sedang dikejar kontribusinya oleh pemerintah Indonesia dalam menopang potensi perekonomian nasional. 

Pada saat ini bermunculan perusahaan yang mulai berbisnis di dunia kosmetik di Indonesia. Tren ini tidak terlepas dari nilai bisnis yang sangat menjanjikan. Data yang dikeluarkan oleh Kementrian Perindustrian menyatakan bahwa sepanjang 2015 nilai ekspor produk kosmetik pada mencapai angka Rp. 11 triliun. Sementara itu, nilai keseluruhan impornya mencapai Rp. 414 juta. Kendati nilai ekspor yang cukup tinggi sepanjang 2015, akan tetapi perusahaan nasional belum mampu merajai pasar domestik. dengan kata lain pasar kosmetik di dalam negeri masih didominasi oleh perusahan multinasional dengan pangsa pasar yang mencapai 70%.  Selain itu, perusahaan kosmetik di Indonesia yang menggunakan positioning halal juga masih tergolong sedikit. 

Data sensus penduduk pada tahun 2010 mencatatkan total penduduk Indonesia yang menganut agama islam tidak kurang dari 87%. Besarnya persentase tersebut sejatinya menjadi peluang bagi perkembangan produk halal di Indonesia. Peningkatan yang terjadi pada jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia, rupanya mampu meningkatkan peluang bagi perusahaan yang memproduksi jenis barang konsumsi atau consumer goods. Selain itu, peluang lain yang terbentuk akibat meningkatnya jumlah pendapatan masyarakat tentu akan menjadi angin segar bagi perkembangan gaya hidup yang semakin beragam, dimana masyarakat yang berstatus sebagai konsumen tidak hanya berusahan untuk memenuhi kebutuhan primer saja, akan tetapi sudah mulai memikiran untuk memenuhi kebutuhan sekunder, atau bahkan kebutuhan tersier mereka. Salah satu kebutuhan sekunder yang harus terpenuhi yaitu grooming and fashion, dimana kosmetik merupakan salah satu jenis barang yang termasuk dalam kategori tersebut. Semakin berkembangnya produk kosmetik yang sebabkan karena adanya perubahan dari gaya hidup yang dialami oleh seorang wanita muslimah di Indonesia, mampu mendorong penggunaan produk-produk kosmetik yang halal dan bersifat organik. 

Menurut lembaga pengkajian pangan obat-obatan dan kosmetika MUI-LPPOM MUI, pada tahun 2015 terdapat 907 produk kosmetik yang sudah memilih tersertifikasi halal. Daftar produk yang telah memiliki sertifikat halal dapat dilihat melalui laman LPPOM MUI yang dikeluarkan setiap tahunnya. Peningkatan produk kosmetik yang mengantongi sertifikat halal MUI terjadi pada tahun 2016 dan tahun-tahun setelahnya. Salah satu contoh produk kosmetik yang sudah tersertifikasi halal yaitu, Wardah dan Sariayu. Adanya peningkatan permintaan dari konsumen terhadap kosmetik yang berbahan halal maupun kosmetik dengan halal positioning secara tidak langsung  dipicu karena rrefleks dari besarnya pengaruh religiusitas dalam pengambilan keputusan konsumen. Tingkat religiusitas merupakan salah satu faktor budaya yang sangat erat kaitannya perilaku konsumen, karena hal ini kemudian akan berpengaruh signifikan terhadap sikap, nilai dan perilaku. Pengetahuan dan cara pandang terhadap kehalalan suatu produk menjadi hal yang dominan dalam memengaruhi perilaku seorang muslim. Kesadaran masyarakat mengenai tingkat keamanan kosmetik yang digunakan sudah meningkat seiring dengan munculnya beberapa kasus mengenai dampak pada penggunaan bahan berbahaya terkandung didalam produk kosmetik. Meskipun demikian, sayangnya kesadaran masyarakat muslim terutama kalangan muslimah terhadap kehalalan suatu produk masih tergolong rendah.

Lalu apa definisi halal dan kaitannya dengan produk kosmetik?

Halal pada umunya mengacu pada hal-hal atau tindakan yang diizinkan sesuai dengan syariat Islam. Dalam konsep kosmetik halal, seluruh aspek yang mencakup kegiatan produksi, termasuk bahan halal dan penggunaan zat yang diperbolehkan dalam artian disimpan, dikemas dan dikirim harus sesuai dengan ketentuan syariah. Produk kosmetik halal mengacu pada produk yang tidak dikonsumsi dan dimasukkan ke dalam tubuh. Kosmetik halal identik digunakan diluar badan guna untuk membersihkan dan menunjang penampilan namun tetap pada koridos syariah, maka dari itu kosmetik ini dikatakan tidak halal apabila mengandung bahan-bahan yang terdapat unsur yang diharamkan seperti zat turunan hewan (kolagen) atau bagian dari tubuh seperti plasenta. Selain bahan-bahan produksi yang halal, aspek penting lain yang perlu diperhatikan adalah logo halal pada produk tersebut, karena logo halal menjadi salah satu penanda bahwa produk tersebut telah mengantongi sertifikasi halal dari lembaga terkait. Namun, kehati-hatian perlu dikedepankan terkait kehalalan produk yang ditandai dengan adanya logo halal pada kemasan produk tersebut, pasalnya pemalsuan logo halal masih marak terjadi. Sehingga perlu dilakukannya pengecekan oleh konsumen secara teliti apakah logo halal tersebut asli dan dikeluarkan oleh lembaga terkait. 

Karena sudah menjadi kewajiban seorang muslimah untuk menggunakan produk kosmetik halal, jadi perlu kehati-hatian dalam memilih produk yang bertujuan untuk menunjang penampilan. Salah satunya bijak dalam menggunakan kosmetik bagi kalangan muslimah, kalau ada yang halal kenapa tidak.

Penulis:

Khalisa Fathany

Reviewer:

Lusiana Ulfa hardinawati, S.Ei., M.Si.

Editor:

Nulido Firgiyanto

Sumber:

Larasati, A., Hati, S. R. H., & Safira, A. (2018). Religiusitas dan Pengetahuan Terhadap Sikap dan Intensi Konsumen Muslim untuk Membeli Produk Kosmetik Halal. Esensi: Jurnal Bisnis Dan Manajemen, 8(2), 105-114.

Rohmatun, K. I., & Dewi, C. K. (2017). Pengaruh pengetahuan dan religiusitas terhadap niat beli pada kosmetik halal melalui sikap. Jurnal Ecodemica1(1), 27-35.

Rosida, R. (2018). Faktor-Faktor Yang Mmempengaruhi IintensiI Pembelian Kosmetik Halal. JEBIS (Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam)| Journal of Islamic Economic and Business4(2), 129-140.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: